6 Cara Budidaya Serai Anyir Dari Bibit Sampai Panen Besar


Serai anyir ialah salah satu tumbuhan yang menciptakan minyak atsiri. Budidaya serai busuk telah banyak dikerjakan di Indonesia sejak lama. Meskipun namanya sama-sama serai, akan tetapi serai bacin memiliki bentuk yang berlawanan dari serai biasa. Dan perawatannya pun juga terang berlawanan.





Serai bacin mempunyai nama biologis Cymbopogon nardus. Tumbuh di kawasan tropis Asia dan terkenal sebagai rempah-rempah dalam kuliner Asia. Selain itu serai bacin juga mampu diseduh menjadi teh herbal, dibentuk menjadi citronella oil, serta daunnya dapat menjadi sumber selulosa untuk pengerjaan kardus dan kertas.





Permintaan serai anyir senantiasa tinggi. Sehingga menjadi ladang bisnis yang menguntungkan bagi yang membudidayakan. Namun untuk mendapatkan hasil yang optimal, dibutuhkan teknik budidaya yang benar. Oleh hasilnya bagi pemula yang ingin mencoba bercocok tanam serai bacin sendiri, mampu disimak caranya berikut ini.





Baca Juga : 7 Cara Menanam Buncis di Rumah untuk Pemula yang Mudah





Budidaya Serai Wangi dari Bibit hingga Panen










1. Syarat Tumbuh





Supaya flora serai amis tumbuh dengan maksimal, maka pembudidaya harus menyanggupi syarat tumbuhnya apalagi dulu. Adapun syarat berkembang serai anyir adalah sebagai berikut:





  • Ketinggian yang dibutuhkan semoga flora serai busuk mampu berkembang ialah 200 hingga 1000 mdpl. Namun untuk menerima hasil rendemen dan kualitas minyak atsiri terbaik, maka serai busuk lebih elok ditanam di ketinggian 350 sampai 600 mdpl.
  • Kondisi yang cocok untuk budidaya flora serai busuk yaitu daerah dengan suhu yang panas, lembab, serta mempunyai curah hujan merata sepanjang tahun.
  • Suhu ideal budidaya ialah 18 hingga 25 derajat celcius.
  • Lokasi budidaya semestinya menerima sinar matahari sarat .
  • Tingkat curah hujan ideal untuk budidaya yaitu 1800 sampai 2500 mm per tahun. Curah hujan bermanfaat sebagai pelarut zat nutrisi, mempertahankan stabilitas suhu flora, serta membantu pembentukan saripati, gula, sel dan enzim.
  • Tanah yang cocok untuk serai anyir yaitu tanah subur, gembur, dan mempunyai kandungan materi organik dari pupuk sangkar.
  • Jenis tanah untuk serai bau ialah tanah mediteran kuning coklat atau coklat berpasir. Sebaliknya, tanah yang tidak baik untuk ditanami serai amis yakni tanah liat dengan tekstur ringan.
  • Tingkat keasaman tanah yang ideal adalah 6 sampai 7,5.




Setelah menyanggupi semua persyaratan tersebut, pembudidaya telah mampu mengawali bercocok tanam serai bau.





2. Persiapan Bibit





Persiapan Bibit
(Sumber: Twitter.com)




Tahap pertama dalam budidaya serai anyir ialah persiapan bibit. Perlu dimengerti bahwa serai bau diperbanyak dengan cara vegetatif, adalah lewat anakan. Meskipun mampu saja melakukan perbanyakan secara generatif, akan namun cara ini terbilang kurang efektif karena tingkat hidup bibit yang berasal dari biji sangatlah rendah.





Bibit serai wangi untuk budidaya mesti ialah bibit yang unggul dengan ketentuan sebagai berikut:





  • Indukan flora bibit yang diseleksi harus dalam keadaan sehat serta bebas dari hama penyakit.
  • Indukan berupa rumpun bau tanah dengan usia setidaknya 1 tahun.
  • Bibit diambil dengan cara stek, yakni memecah rumpun yang berukuran besar tetapi tidak beruas.
  • Sebagian dari pelepah daun serai anyir yang distek diiris sepanjang 3 hingga 5 cm.
  • Sebagian akar bibit dikurangi kurang lebih 2,5 cm di bawah leher akar.




Untuk 1 hektar lahan, membutuhkan bibit serai busuk sebanyak kurang lebih 30.000 sampai 40.000 dalam keadaan normal. Cara pemisahan anakan untuk bibitnya yakni selaku berikut:





  • Dari tanaman indukan berusia minimal 1 tahun, pilih bonggol yang cukup besar dengan setidaknya mempunyai 4 hingga 6 tunas.
  • Kemudian  pisahkan bonggol rumpunnya.
  • Potong atau minimalkan bagian akarnya jika terlalu panjang.
  • Potong juga bagian daun dengan menyisakan kurang lebih 5 cm dari pangkal daun tertua.
  • Bibit lalu diposisikan di keranjang pada posisi bangun.




Baca Juga : 8 Langkah Cara Bercocok Tanam Padi dari Awal Sampai Panen





3. Pengolahan Lahan





Selanjutnya yakni pengolahan tanah. Tanah pada lahan yang hendak dipakai harus dimasak terlebih dulu dengan tahapan berikut:





  • Gemburkan tanah dengan cara dicangkul sedalam 35 cm.
  • Bersihkan areal lahan yang akan dipakai dari rumput dan gulma.
  • Biarkan lahan selama kurang lebih 2 sampai 3 hari supaya tanah dapat melaksanakan penguapan
  • Apabila memakai lahan datar, buatlah bedengan dengan ukuran panjang 2 meter atau menyesuaikan lahan, dan lebar 1,5 m.
  • Apabila memakai lahan miring, buatlah terasering semoga humus pada permukaan tanah tidak hanyut oleh air hujan.
  • Jangan lupa untuk menciptakan terusan drainase agar tanaman tidak tergenang air.




4. Penanaman Serai Wangi





Penanaman Serai Wangi
(Sumber: Mediaindonesia.com)




Berlanjut ke tahap penanaman. Bibit serai amis semestinya disemai apalagi dahulu. Siapkan lahan persemaian dengan memakai media berupa tanah yang dicangkul dan diaduk pasir dengan perbandingan 2 : 1. Lalu buat bedengan selebar 80-120 cm, tinggi 25-50cm, dan panjang sesuai dengan ukuran lahan. Di atas bedengan berikan pupuk organik secara rata, lalu beri juga pohon naungan seperti alang atau daun kelapa.





Setelah melalui persemaian, bibit kemudian dipindahkan ke lahan budidaya. Pada lahan, buatlah lubang tanam secara berbaris dengan jarak tanam ideal 100 x 50 cm. Ukuran lubang tanamnya 30 x 30 x 30 cm. Lubang tanam kemudian diberi pupuk kandang yang sudah matang sebanyak 0,2 sampai 0,3 kg per lubang. Biarkan selama 2 ahad biar mendapat sinar matahari. Setelah itu lubang tanam ditutup dengan tanah bekas cangkulan.





Penanaman dijalankan dikala demam isu hujan dan di sore hari. Satu lubang tanam diisi dengan 2 sampai 3 bibit serai anyir, dengan posisi miring 60-70 derajat dari permukaan tanah. Kemudian bibit ditimbun dengan tanah bekas galian dan tekan merata ke sekeliling flora.





5. Pemeliharaan Serai Wangi





Pemeliharaan serai busuk meliputi penyulaman, penyiangan, pembumbunan, serta pemupukan. Penyulaman dilaksanakan 2-3 ahad sehabis tanam, dengan mengubah tumbuhan yang layu atau mati dengan tumbuhan gres. Penyiangan dilakukan di permulaan atau di akhir demam isu penghujan dengan mencampakkan gulma, serta batang daun serai bacin yang mengering.





Pembumbunan dikerjakan serempak dengan penyiangan. Untuk flora yang masih muda, pembumbunan dikerjakan dengan mencangkul tipis tanah di sekitarrumpun tanaman dengan jarak 20 cm.





Terakhir pemupukan dilakukan sedikit demi sedikit mulai umur 1 bulan, 6 bulan, 9 bulan, 12 bulan, serta tahun ke 3 dan ke 4. Dosis pupuk per tahun untuk per ha adalah Urea 150kg – 300 kg, TSP 25-50kg, serta KCl 125-250kg. Diberikan dengan cara dimasukkan dalam lubang melingkar dengan kedalaman 10 cm lalu ditutup tanah.





Baca Juga : 5 Cara Budidaya Kangkung Darat yang Benar untuk Pemula





6. Pemanenan Serai Wangi





Pemanenan Serai Wangi
(Sumber: Youtube.com)




Serai amis telah mampu dipanen saat berusia 7-8 bulan. Meski begitu daun yang dihasilkan masih belum banyak. Panen berikutnya dilakukan dikala flora berusia 1 tahun. Lalu di tahun kedua mampu dipanen setiap 3-4 bulan sekali.





Panen sebaiknya dijalankan pada pagi atau sore hari dengan cara memangkas daun berjarak 3-5 cm di atas pangkal daun. Pilih daun yang berwarna hijau renta, beraroma anyir berpengaruh, daunnya lebih lentur, dan memiliki 6-8 lembar daun renta pada masing-masing tunas rumpunnya.





Demikian penjelasan tentang cara budidaya serai amis dari bibit sampai panen besar. Semoga berguna.





Jangan lupa untuk ikuti perkembangan situs web kita dengan LIKE Facebook, Follow Twitter dan Instagram TrikMerawat.com. Jangan Lupa Juga Untuk Follow Instagram dan Subscribe Channel Youtube penulis.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jasa Penulis Postingan Seo Tukangkonten.Com Menjadi Pilihan Utama

15 Masakan Pencegah Kanker Paling Ampuh

Cara Mengatasi Hidung Tersumbat Pada Malam Hari